Kamis, 20 Desember 2012

Ujian Akhir Semester Psikologi Belajar


Kekhasan dari Setiap Mata Kuliah Pilihan di Semester 5

Psikologi Belajar merupakan salah satu mata kuliah pilihan yang dibuka pada semester 5 di Fakultas Psikologi Universitas Sumatra Utara. Mata kuliah Psikologi Belajar ini bernaung dibawah Departemen Pendidikan yang ada di Fakultas Psikologi USU. Dalam mata kuliah ini akan dibahas 11 pokok bahasan dengan menggunakan  Learning and Instruction dari Margaret E. Gredler sebagai buku utama. Dosen pengampu memberikan keleluasaan bagi para mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini untuk menggunakan buku-buku ataupun sumber informasi lain, baik dari internet ataupun artikel-artikel sebagai referensi tambahan yang bertujuan agar dapat menambah wawasan mahasiswanya.

Berkaitan dengan pemberian tugas dalam mata kuliah ini, dosen pengampu memberikan beberapa pilihan alternatif tugas pada mahasiswa untuk bisa memilih tugas apa yang akan dikerjakan. Kebebasan memilih ini juga disertai dengan alasan-alasan. Jika alasan tersebut tepat dan  bisa diterim, maka tugas yang dipilih bisa diloloskan oleh dosen pengampu. Dengan adanya sistem pemilihan tugas ini, dosen pengampu memiliki harapan agar mahasiwanya lebih dapat bertanggung jawab atas tugas pilihanya sendiri dan tidak menganggap tugas sebagai suatu beban. Jika harapan tersebut dapat tercapai maka tentu saja kualitas tugas dari mahasiwa akan juah lebih baik. Adapun beberapa garis besar tugas-tugas pada mata kuliah Psikologi Belajar ini adalah observasi ke salah satu sekolah berbasis teknologi dengan bersandar pada teori Belajar dari Rober Gagne, pembuatan min map untuk bab-bab tertentu, diskusi intensif yang nantinya hasil diskusi tersebut diposting pada masing-masing blog anggota kelompok. Tugas lain yang tidak kalah menariknya adalah dimana mahasiswa secara berkelompok diminta untuk merancang desain pembelajaran dengan bersandar pada teori. Tugas ini sangat menuntut kreativitas. Mahasiswa harus memikirkan desain pembelajaran yang menarik tetapi tetap edukasional. Tujuan dari penugasan ini adalah agar mahasiswa mampu mengasah keterampilan dan kreativitasnya dengan harapan desain pembelajaran tersebut dapat diterapkan ke mata kuliah lain jika diperlukan. Dengan desain pembelajaran yang menarik, tentu saja mahasiswa akan semakin bersemangat untuk belajar dan menyerap materi kuliah.

Kebebasan pemilihan tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Psikologi Belajar tidak terlepas dari pengaplikasian teori belajar. Salah satu teori tersebut adalah teori Kognitif-Sosial Albert Bandura. Teori Kognitif-Sosial tidak mendeskripsikan bentuk pemikiran dan/atau perilaku yang merepresentasikan belajar yang kompleks. Sebaliknya, teori ini mendeskripsikan element penting agar tercapainya kinerja yang unggul untuk setiap ranah atau disiplin. Menurut Bandura (1986), faktor esensial dalam mendapatkan kapabilitas yang kompleks adalah sistem penngaturan diri.  Dengan kata lain, proses belajar akan sukses jika ada elemen-elemen penting tersebut. Elemen penting tersebut adalah pengaturan diri. Pengaturan diri didefinisikan sebagai pemikiran, perasaan, dan tindakan yang dimunculkan sendiri yang direncanakan dan disesuaikan secara klinis untuk mencapai tujuan pribadi. Disebut sebagai pengaturan diri sebab bergantung pada keyakinan dan motif individual, bukan kemampuan mental ataupun tahapan kompetensi. Dalam hal ini, pembelajar menetapkan tujuan sendiri dan punya sumber daya untuk memilih strategi belajar. Inti dari elemen ini adalah pembelajar yang harus menentukan segala sesuatunya sendiri untuk mencapai kesuksesan tujuannya.

Mengacu pada uraian diatas, pemberian tugas pada mata kuliah Psikologi Belajar tentu sangat baik. Karena mahasiswa dapat menentukan tugas yang akan dikerjakan. Dalam hal ini berarti mahasiswa menetapkan tujuan serta strategi belajar yang ditentukan sendiri. hal ini akan dapat mendongkrak ketercapaian mahasiswa mencapai kesuksesannya. Tetapi sesuai dengan teori, semua hal tersebut tidak akan ada artinya jika mahasiswa sebagai pembelajar tidak memiliki “pengaturan diri” sebagaimana yang disebutkan oleh teori belajar dari Albert Bandura. Semuanya menjadi kompleks dalam hal ini. Intinya,  mahasiswa dapat sukses mencapai tujuan jika ia mampu bertanggung jawab dengan pilihannya sendiri, memiliki strategi dalam mencapai tujuannya, serta memiliki keyakinan dan motivasi yang tinggi untuk mencapai kesuksesan.

Dosen pengampu mata kuliah Psikologi Belajar selalu berusaha untuk mengaplikasikan langsung teori yang sedang dipelajari dalam bentuk penugasan. Contoh lain dari penugasan yang mengaplikasikan teori belajar selain uraian dibagian awal adalah ketika Ibu Dina selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi Belajar membagi peserta kelas menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok A dan kelompok B. Kemudian,beliau memberikan kami 3 lembar stimulus. 2 lembar berupa sertifikat sedangkan 1 lembar lainnya adalah kertas HVS kosong. Kami diminta untuk menciptakan sebuah produk dari 3 lembar stimulus yang telah diberikan. Dosen sama sekali tidak memberikan arahan tentang produk seperti apa yang harus dibuat. Tugas tersebut jelas sangat menuntu mahasiswa untuk mampu berfikir abstrak, serta mengasah kreatifitas. Setelah tugas selesai, setiap mahasiswa diminta untuk menilai produk yang telah dibuat oleh mahasiswa lainnya. Hingga akhirnya diujung pertemuan kelas Psikologi Belajar hari itu, bu Dina memberikan reward kepada 6 orang terbaik, yaitu 3 orang terbaik dari kelompok A dan # orang terbaik dari kelompok B.

Kaitan penugasan diatas dengan salah satu teori belajar adalah teori dari B.F Skinner yang mengatakan bahwa reinforcement dilakukan untuk mendapatkan perilaku sesuai dengan keinginan pemberi stimulus. Reinforcement merupakan setiap konsekuensi behavioral yang memperkuat perilaku, yaitu penguatan yang dapat meningkatkan frekuensi respons. Reinforcement terbagi dua, yaitu reinforcement positif, dan reinforcement negative. Jelas bahwa pemilihan 6 orang terbaik disertai pemberian reward merupakan reinforement positif dari bu Dina terhadap prilaku yang telah dimunculkan. Hal tersebut tentunya akan memotivasi kami untuk melakukan yang terbaik dan memunculkan prilaku sesuai yang diharapkan oleh bu Dina selaku pemberi stimulus.
Seluruh tugas yang ada pada mata kuliah Psikologi Belajar merupakan aplikasi dari teori belajar yang sedang dibahas selama satu semester. Dengan aplikasi langsung ini, dosen pengampu berharap agar mahasiswa tidak hanya menghafal teori. Tetapi juga memahami dan mampu mengaplikasikan teori dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tentu saja menjadikan mahasiswa mengingat teori dengan lebih mudah karena berkesan dan benar-benar melihat wujud nyatanya.

Untuk memperjelas perbandingan penugasan pada mata kuliah di semester 5, pada uraian selanjutnya akan dibahas secara singkat mengenai penugasan pada mata kuliah Ergonomi. Perbandingan penugasan dengan mata kuliah Ergonomi dimaksudkan karena mata kuliah Psikologi Belajar merupakan mata kuliah pilihan. Maka akan lebih mudah untuk membandingkannya dengan mata kuliah pilihan pula.

Kelas untuk mata kuliah Ergonomi rutin dijalankan setiap hari jum’at dengan durasi 2 sks atau sekitar 100 menit. Sistem perkuliahan pada mata kuliah tersebut dapat dikatakan jauh berbeda dengan sistem perkuliahan pada mata kuliah Psikologi Belajar. Pada mata kuliah Ergonomi, setiap mahasiswa yang tergabung dalam satu kelompok akan mempresentasikan materi yang menjadi pokok pembahasan. Setiap minggunya akan ada kelompok yang berbeda untuk mempresentasikan materi. Tanggung jawab yang cukup besar, karena presenter harus benar-benar memahami materi. Sehingga dapat menjelaskan kepada peserta kelas lainnya sampai semuanya juga mengerti. Demi pemahaman yang lebih baik mengenai teori, maka setiap kelompok diwajibkan untuk menyertakan kasus yang sesuai dengan topik pembahasan mhari itu. Kemudian membahasnya dengan teori yang telah dijelaskan. Selain tugas presentasi, pada mata kuliah tersebut juga akan ada penugasan berupa pembahasan jurnal dengan teori-teori yang telah dipelajari sebelumnya. Penugasan jurnal tersebut hanya dilakukan sekali, dimana waktu pengumpulannya adalah ketika UTS.

Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa pengaplikasian teori Ergonomi tidak sebanyak di perkuliahan Psikologi Belajar. Hal tersebut dikarenakan teori-teori pada mata kuliah Ergonomi kurang sesuai jika diwujudkan dalam proses belajar di kelas. Beda halnya dengan teori-teori yang ada mata kuliah Psikologi Belajar yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga sangat dimungkinkan untuk dipalikasikan langsung di dalam kelas. Tetapi, kedua sistem pembelajaran pada masing-masing mata kuliah pilihan tersebut sama-sama bertujuan untuk memberikan pengetahuan serta pemahaman yang tepat dan mendalam mengenai materi yang menjadi pokok bahasan. Dengan kekhasan sistem pemberian tugas dari mata kuliah pilihan tersebut tetap ada kekurangan dan kelebihan masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana mahasiswa selaku peserta kelas memaksimalkan potensinya dengan sistem perkuliahan yang telah disepakati bersama. 

Rabu, 19 Desember 2012

Ujian Akhir Semester Psikologi Belajar


Perbandingan Pemberian Tugas pada Mata Kuliah Psikologi Belajar dengan Mata Kuliah Lain di Semester 5

Psikologi Belajar merupakan salah satu mata kuliah pilihan yang dibuka pada semester 5 di Fakultas Psikologi Universitas Sumatra Utara. Mata kuliah Psikologi Belajar ini bernaung dibawah Departemen Pendidikan yang ada di Fakultas Psikologi USU. Dalam mata kuliah ini akan dibahas 11 pokok bahasan dengan menggunakan  Learning and Instruction dari Margaret E. Gredler sebagai buku utama. Dosen pengampu memberikan keleluasaan bagi para mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini untuk menggunakan buku-buku ataupun sumber informasi lain, baik dari internet ataupun artikel-artikel sebagai referensi tambahan yang bertujuan agar dapat menambah wawasan mahasiswanya. 

Berkaitan dengan pemberian tugas dalam mata kuliah ini, dosen pengampu memberikan beberapa pilihan alternatif tugas pada mahasiswa untuk bisa memilih tugas apa yang akan dikerjakan. Kebebasan memilih ini juga disertai dengan alasan-alasan. Jika alasan tersebut tepat dan  bisa diterim, maka tugas yang dipilih bisa diloloskan oleh dosen pengampu. Dengan adanya sistem pemilihan tugas ini, dosen pengampu memiliki harapan agar mahasiwanya lebih dapat bertanggung jawab atas tugas pilihanya sendiri dan tidak menganggap tugas sebagai suatu beban. Jika harapan tersebut dapat tercapai maka tentu saja kualitas tugas dari mahasiwa akan juah lebih baik. Adapun beberapa garis besar tugas-tugas pada mata kuliah Psikologi Belajar ini adalah observasi ke salah satu sekolah berbasis teknologi dengan bersandar pada teori Belajar dari Rober Gagne, pembuatan min map untuk bab-bab tertentu, diskusi intensif yang nantinya hasil diskusi tersebut diposting pada masing-masing blog anggota kelompok. Tugas lain yang tidak kalah menariknya adalah dimana mahasiswa secara berkelompok diminta untuk merancang desain pembelajaran dengan bersandar pada teori. Tugas ini sangat menuntut kreativitas. Mahasiswa harus memikirkan desain pembelajaran yang menarik tetapi tetap edukasional. Tujuan dari penugasan ini adalah agar mahasiswa mampu mengasah keterampilan dan kreativitasnya dengan harapan desain pembelajaran tersebut dapat diterapkan ke mata kuliah lain jika diperlukan. Dengan desain pembelajaran yang menarik, tentu saja mahasiswa akan semakin bersemangat untuk belajar dan menyerap materi kuliah. 

Kebebasan pemilihan tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Psikologi Belajar tidak terlepas dari pengaplikasian teori belajar. Salah satu teori tersebut adalah teori Kognitif-Sosial Albert Bandura. Teori Kognitif-Sosial tidak mendeskripsikan bentuk pemikiran dan/atau perilaku yang merepresentasikan belajar yang kompleks. Sebaliknya, teori ini mendeskripsikan element penting agar tercapainya kinerja yang unggul untuk setiap ranah atau disiplin. Menurut Bandura (1986), faktor esensial dalam mendapatkan kapabilitas yang kompleks adalah sistem penngaturan diri.  Dengan kata lain, proses belajar akan sukses jika ada elemen-elemen penting tersebut. Elemen penting tersebut adalah pengaturan diri. Pengaturan diri didefinisikan sebagai pemikiran, perasaan, dan tindakan yang dimunculkan sendiri yang direncanakan dan disesuaikan secara klinis untuk mencapai tujuan pribadi. Disebut sebagai pengaturan diri sebab bergantung pada keyakinan dan motif individual, bukan kemampuan mental ataupun tahapan kompetensi. Dalam hal ini, pembelajar menetapkan tujuan sendiri dan punya sumber daya untuk memilih strategi belajar. Inti dari elemen ini adalah pembelajar yang harus menentukan segala sesuatunya sendiri untuk mencapai kesuksesan tujuannya. 

Mengacu pada uraian diatas, pemberian tugas pada mata kuliah Psikologi Belajar tentu sangat baik. Karena mahasiswa dapat menentukan tugas yang akan dikerjakan. Dalam hal ini berarti mahasiswa menetapkan tujuan serta strategi belajar yang ditentukan sendiri. hal ini akan dapat mendongkrak ketercapaian mahasiswa mencapai kesuksesannya. Tetapi sesuai dengan teori, semua hal tersebut tidak akan ada artinya jika mahasiswa sebagai pembelajar tidak memiliki “pengaturan diri” sebagaimana yang disebutkan oleh teori belajar dari Albert Bandura. Semuanya menjadi kompleks dalam hal ini. Intinya,  mahasiswa dapat sukses mencapai tujuan jika ia mampu bertanggung jawab dengan pilihannya sendiri, memiliki strategi dalam mencapai tujuannya, serta memiliki keyakinan dan motivasi yang tinggi untuk mencapai kesuksesan. 

Dosen pengampu mata kuliah Psikologi Belajar selalu berusaha untuk mengaplikasikan langsung teori yang sedang dipelajari dalam bentuk penugasan. Contoh lain dari penugasan yang mengaplikasikan teori belajar selain uraian dibagian awal adalah ketika Ibu Dina selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi Belajar membagi peserta kelas menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok A dan kelompok B. Kemudian,beliau memberikan kami 3 lembar stimulus. 2 lembar berupa sertifikat sedangkan 1 lembar lainnya adalah kertas HVS kosong. Kami diminta untuk menciptakan sebuah produk dari 3 lembar stimulus yang telah diberikan. Dosen sama sekali tidak memberikan arahan tentang produk seperti apa yang harus dibuat. Tugas tersebut jelas sangat menuntu mahasiswa untuk mampu berfikir abstrak, serta mengasah kreatifitas. Setelah tugas selesai, setiap mahasiswa diminta untuk menilai produk yang telah dibuat oleh mahasiswa lainnya. Hingga akhirnya diujung pertemuan kelas Psikologi Belajar hari itu, bu Dina memberikan reward kepada 6 orang terbaik, yaitu 3 orang terbaik dari kelompok A dan # orang terbaik dari kelompok B. 

Kaitan penugasan diatas dengan salah satu teori belajar adalah teori dari B.F Skinner yang mengatakan bahwa reinforcement dilakukan untuk mendapatkan perilaku sesuai dengan keinginan pemberi stimulus. Reinforcement merupakan setiap konsekuensi behavioral yang memperkuat perilaku, yaitu penguatan yang dapat meningkatkan frekuensi respons. Reinforcement terbagi dua, yaitu reinforcement positif, dan reinforcement negative. Jelas bahwa pemilihan 6 orang terbaik disertai pemberian reward merupakan reinforement positif dari bu Dina terhadap prilaku yang telah dimunculkan. Hal tersebut tentunya akan memotivasi kami untuk melakukan yang terbaik dan memunculkan prilaku sesuai yang diharapkan oleh bu Dina selaku pemberi stimulus. 

Seluruh tugas yang ada pada mata kuliah Psikologi Belajar merupakan aplikasi dari teori belajar yang sedang dibahas selama satu semester. Dengan aplikasi langsung ini, dosen pengampu berharap agar mahasiswa tidak hanya menghafal teori. Tetapi juga memahami dan mampu mengaplikasikan teori dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tentu saja menjadikan mahasiswa mengingat teori dengan lebih mudah karena berkesan dan benar-benar melihat wujud nyatanya. 

Untuk memperjelas perbandingan penugasan pada mata kuliah di semester 5, pada uraian selanjutnya akan dibahas secara singkat mengenai penugasan pada mata kuliah Ergonomi. Perbandingan penugasan dengan mata kuliah Ergonomi dimaksudkan karena mata kuliah Psikologi Belajar merupakan mata kuliah pilihan. Maka akan lebih mudah untuk membandingkannya dengan mata kuliah pilihan pula. 

Kelas untuk mata kuliah Ergonomi rutin dijalankan setiap hari jum’at dengan durasi 2 sks atau sekitar 100 menit. Sistem perkuliahan pada mata kuliah tersebut dapat dikatakan jauh berbeda dengan sistem perkuliahan pada mata kuliah Psikologi Belajar. Pada mata kuliah Ergonomi, setiap mahasiswa yang tergabung dalam satu kelompok akan mempresentasikan materi yang menjadi pokok pembahasan. Setiap minggunya akan ada kelompok yang berbeda untuk mempresentasikan materi. Tanggung jawab yang cukup besar, karena presenter harus benar-benar memahami materi. Sehingga dapat menjelaskan kepada peserta kelas lainnya sampai semuanya juga mengerti. Demi pemahaman yang lebih baik mengenai teori, maka setiap kelompok diwajibkan untuk menyertakan kasus yang sesuai dengan topik pembahasan mhari itu. Kemudian membahasnya dengan teori yang telah dijelaskan. Selain tugas presentasi, pada mata kuliah tersebut juga akan ada penugasan berupa pembahasan jurnal dengan teori-teori yang telah dipelajari sebelumnya. Penugasan jurnal tersebut hanya dilakukan sekali, dimana waktu pengumpulannya adalah ketika UTS. 

Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa pengaplikasian teori Ergonomi tidak sebanyak di perkuliahan Psikologi Belajar. Hal tersebut dikarenakan teori-teori pada mata kuliah Ergonomi kurang sesuai jika diwujudkan dalam proses belajar di kelas. Beda halnya dengan teori-teori yang ada mata kuliah Psikologi Belajar yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga sangat dimungkinkan untuk dipalikasikan langsung di dalam kelas. Tetapi, kedua sistem pembelajaran pada masing-masing mata kuliah pilihan tersebut sama-sama bertujuan untuk memberikan pengetahuan serta pemahaman yang tepat dan mendalam mengenai materi yang menjadi pokok bahasan. Keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana mahasiswa selaku peserta kelas memaksimalkan potensinya dengan sistem perkuliahan yang telah disepakati bersama.

Senin, 10 Desember 2012

Laporan Hasil Observasi di SMK Tritech Medan


Nama                           : Fauziah Nami Nasution
Nim                             : 101301016
Kelas                           : 3 MM 1 (Multimedia)
Mata Pelajaran            : Matematika
Guru                            : Asril Putra
Waktu Observasi         : Rabu, 5 Desember 2012, pukul 11.55
Durasi Observasi         : 20 Menit
Jumlah Siswa               : 27 orang
           
Media pembelajaran yang digunakan guru         : Buku-buku yang berhubungan dengan   matematika, alat tulis (pulpen), white board, spidol.
Media pembelajaran yang digunakan siswa       : Buku tulis, buku cetak matematika, pulpen

Situasi fisik kelas :
Ø Ruang kelas kira-kira berukuran 6x5 m2
Ø Terdapat beberapa kursi dan meja untuk siswa
Ø Sebuah kursi dan meja yang terbuat dari gabungan besi dan kayu dibagian depan untuk guru
Ø Sebuah white board, penghapus, beserta spidol
Ø Didalam kelas terdapat ac dan kipas angin dalam keadaan nyala, 4 buah lampu dibagian atas kelas (3 nyala, 1 mati)
Ø Sebuah LCD TV berwarna hitam diatas white board
Ø Terlihat kain pel disudut sebelah kiri ruang kelas
Ø Didekat kain pel terdapat sebuah laptop yang sedang di charge
Ø Dinding bagian sudut sebelah kiri ruang kelas ditempeli sekitar 5-6 kertas
Ø Dinding bagian kanan dan belakang ruang kelas terdapat besi-besi yang digunakan siswa untuk menggantungkan jaket dan helm
Ø Lantai terbuat dari keramik

Alat observasi : Pulpen, kertas, beserta kamera (handphone)

Proses Observasi

            Berikut adalah sekilas tentang proses berlangsungnya observasi yang saya lakukan. Pertama-tama kami memasuki kelas, kemudian menemui guru yang sedang mengajar dan menyampaikan maksud kedatangan kami (saya dan nadya) hari tiu disertai dengan meminta izin untuk melakukan observasi di dalam kelas. Guru tersebut mengizinkan kami untuk melakukan obsrvasi. Kemudian kami duduk di bangku kosong di bagian belakang kelas.

            Selanjutnya, kelas berlangsung seperti semula. Guru memberikan penjelasan berkaitan dengan materi hari itu. Sambil menjelaskan, guru juga menuliskan rumus, contoh soal dan cara menjawab soal tersebut. jika ada yang kurang mengerti, guru akan mengulang penjelasannya. Setelah penjelasan selesai dan murid-murid tidak ada lagu yang bertanya, maka gur akan meminta mereka untuk mencatat materi yang ada di papn tulis tersebut. tersebut.Begitu seterusnya, hingga terkadang guru meminta murid untuk maju ke depan menyelesaikan soal-soal yang telah ia buat di papan tulis. Latihan juga dilakukan dengan meminta murid mengerjakan soal-soal di bangku masing-masing.

            Pada awalnya kelas kurang kondusif. Beberapa siswa bermain handphone, bahkan ada juga siswa yang berdiri-diri di depan pintu kelas. Dari observasi yang saya lakukan, terlihat bahwa guru kurang menguasi kelas. Murid-murid tampak kurang patuh terhadap gurunya. Mereka berjalan kesana kemari di dalam kelas, bercerita dengan sesama temannya. Mungkin saja hal ini terjadi karena guru kurang tegas terhadap murid-muridnya yang beranjak dewasa. Faktor usia guru yang terbilang muda juga menjadi salah satu penyebab hal inj terjadi.

            Terakhir, saya ingin menyampaikan bahwa ketika proses belajar berlangsung, tidak terlihat guru menggunakan teknologi dalam menyampaikan materi. Guru menggunakan peralatan biasa yang digunakan oleh kebanyakn sekolah-sekolah umum lainnya. Jadi, tidak ada penggunaan teknologi dalam kelas tersebut.

Panduan Obervasi

            Panduan yang saya gunakan dalam mengobservasi kelas 3 MM 1 hari itu adalah tabel 5.6 halaman 198 yang terdapat dalam buku Learning and Instruction dari Margaret E. Gredler. Berikut adalah tabel 5.6 yang dilengkapi dengan hasil observasi.

Kapabilitas
Kata Kerja
Hasil obervasi
Informasi
Menyatakan, mendefinisikan, menguraikan dengan kata-kata sendiri
Ketika proses belajar-mengajar berlangsung, guru menguraikan cara-cara mengerjakan soal matematika dengan kata-kata sendiri. Sehingga murid lebih mudah untuk memahami materi tersebut.
Keterampilan motorik
Melakukan,mengerjakan,memberlakukan, mengucapkan.
Baik guru maupun murid menunjukkan keterampilan motorik. Guru melakukan pengerjaan contoh soal didepan kelas, mengucapkan makna dari rumus-rumus. Sedangkan murid, mengerjakan soal-soal yang diberikan serta mengucapkan jawaban bila guru tiba-tiba menanyakan seseuatu yang berhubungan dengan rumus.
Sikap
Memutuskan untuk, bebas untuk memilih, memilih (aktivitas yang disukai)
Tidak ada kapabilitas sikap apapun yang ditunjukkan oleh murid
Siasat kognitif
Menentukan cara (strategi)
Kapabilitas ini hanya ditunjukkan oleh guru. Dimana, beliau menmberikan cara cepat/strategi mudah mengerjakan soal
Keterampilan intelektual

Membedakan
Konsep
Aturan

Kaidah tingkat tinggi



Memilih (yang sama dan yang beda)
Mengidentifikasi contoh
Menunjukkan, memprediksi, menjabarkan
Menghasilkan (penyelasaian satu masalah), memecahkan
Murid memilih (yang sama dan yang beda). Terlihat ketika mereka harus memeriksa jawaban teman-temannya. Lalu mereka juga menghasilkan (menyelsaikan soal-soal sebagai satu masalah).

Guru mengidentifikasi contoh, memecahkan dan menghasilkan jawaban soal-soal,serta   menjabarkan.


Analisa Hasil Obervasi

            Dalam menganalisa hasil obervasi yang telah saya lakukan. Saya menggunakan tabel 5.7 halaman 198 yang terdapat dalam buku Learning and Instruction dari Margaret E. Gredler. Adapun tabel tersebut sebagai berikut.

Deskripsi
Tahapan Belajar
Kegiatan Pembelajaran
Persiapan belajar 

                                                
           1. . Mengarahkan perhatian

           2.    Ekspektasi


        3.     Retrieval
Menarik perhatian siswa dengan menggunakan kejadi tidak seperti biasanya.
Memberitahu tujuan belajar kepada siiwa

Merangsang ingatan atas belajar sebelumnya
Akuisisi dan kinerja    
       4     Persepsi selektif atas ciri stimulus

       5    Penyandian semantik


      6.  Retrieval dan respons

       7. Penguatan
Menyajikan stimulus dengan ciri yang berbeda

Memberikan bimbingan belajar

Memunculkan kinerja

Memberi balikan informatif
Transfer belajar                                       
          8.   Pemberian reward retrieval

       9.   Generalisasi
Menilai perbuatan/kinerja


Memunculkan kinerja dengan contoh baru

Analisa yang dapat saya sampaikan bahwa guru hanya melakukan tahapan belajar pada point 4,6,7 dan 9. Guru memberikan contoh-contoh soal yang berbeda-beda (menyajikan stimulus dengan ciri yang berbeda). Kemudian guru meminta murid untuk mengerjakan soal-soal matematika (memunculkan kinerja). Guru juga memberi tahukan kunci jawaban dari soal-soal yang telah dikerjakan murid-murid (memberi balikan informatif). Setelah itu, guru menjelaskan rumus dan contoh baru lalu meminta murid untuk mengerjakan soal-soal.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa gur tidak melakukan seluruh tahapan belajar yang dapat menunjang keberhasilan proses belajr mengajar. Guru hanya melakukan 4 tahapan dari 9 tahapan yang sebaiknya ada dalam prose mengajar. Hal ini tentu saja dapat mengakibatkan kurangnya keberhasilan murid dalam menguasai materi-materi yang diajarkan.

Rabu, 14 November 2012

Analisa Permasalahan Menggunakan Teori Gagne, Piaget dan Bandura

Permasalahan
“ Mengapa mahasiswa Psikologi USU yang mengambil mata kuliah psikologi belajar T.A 2012/2013 semseter ganjil  sebagian besar tidak memberikan tanggapan di grup sehubungan dengan rencana melakukan observasi di lapangan? “

Analisis Menurut :
1.    Kondisi Belajar Robert Gagne
Menurut Robert Gagne, proses belajar dapat terjadi karena 2 proses yang berperan penting dalam kondisi belajar, yaitu proses internal dan proses eksternal.  Proses internal akan terjadi dalam diri individu yang mencakup proses kognitifnya. Sedangkan, proses eksternal adalah stimuli dari lingkungan. Contohnya, untuk belajar gerak, siswa akan melihat contoh yang diberikan oleh guru olahraganya, selanjutnya gerakan tersebut akan ia pahami dalam kognitifnya dan ia akan mengulang gerakan tersebut dengan gerakan yang sama.

       Permasalahan di atas jika dianalisis melalui teori ini bisa muncul  karena kurangnya proses eksternal dan internal yang mendukung mahasiswa untuk menanggapi  grup psikologi belajar sehubungan dengan rencana observasi di lapangan. Proses eksternal kurang dilihat dari masih adanya mahasiswa yang kurang bisa untuk mengakses dengan mudah jaringan internet. Jika stimuli dari lingkungan kurang, maka jelas bahwa proses internalnya jga tidak berjalan dengan seharusnya untuk mendukung proses belajar.

2.    Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget
Periode perkembangan kognitif  yang diidentifikasi oleh Piaget adalah tahap sensorimotor, pra-operasional, operasional konkret dan operasional formal. Setiap tahapan akan ada kemampuan-kemampuan yang berbeda yang bisa dicapai. Mahasiswa adalah termasuk ke dalam individu yang memiliki tahap perkembangan kognitif operasional formal. Salah satu kemampuan yang dimiliki inidividu dalam tahap ini adalah kemampuan berfikir abstrak. Dalam tahap inteligensi operasional formal, keterbatasan inteligensi operasional telah teratasi. Mampu berfikir hipotetik dan dapat menguji secara sistematik berbagai penjelasan mengenai kejadian-kejadian tertentu, dikarenakan telah mulai dapat menemukan penyelesaian suatu masalah.

Jika menganalisi permasalahan di atas dengan teori ini, maka sebenarnya mahasiswa yang mengambil mata kuliah psikologi belajar mampu menyelesaikan apa yang diinstruksikan oleh dosen pengampu. Mahasiswa harus mampu menyelesaikan masalah dengan kemampuan kognitifnya. 

3.    Teori Kognitif-Sosial Albert Bandura
Teori ini berbeda dengan teori belajar lain. Teori Bandura ini mendeskripsikan element penting agar tercapainya kinerja yang unggul untuk setiap ranah atau disiplin. Dengan kata lain, proses belajar akan sukses jika ada elemen-elemen penting tersebut. elemen penting tersebut adalah pengaturan diri. Pengaturan diri didefinisikan sebagai pemikiran, perasaan, dan tindakan yang dimunculkan sendiri yang direncanakan dan disesuaikan secara klinis untuk mencapai tujuan pribadi. Disebut sebagai pengaturan diri sebab bergantung pada keyakinan dan motif individual, bukan kemampuan mental ataupun tahapan kompetensi. Dalam hal ini, pembelajar menetapkan tujuan sendiri dan punya sumber daya untuk memilih strategi belajar. Inti dari elemen ini adalah pembelajar yang harus menentukan segala sesuatunya sendiri untuk mencapai kesuksesan tujuannya.

Jika masalah di atas dianalisi menggunakan teori Bandura,  maka dapat dikatakan bahwa sebagian besar mahasiwa yang mengambil mata kuliah psikologi belajar belum memiliki elemen “pengaturan diri” sebagai kunci tercapainya kesukksean proses belajar. Mahasiswa terlihat tidak memiliki motivasi yang tinggi untuk menyelesaikan tugas-tugas matakuliah dengan baik dan belum memiliki strategi belajar sendiri demi tercapainya tujuan pembelajaran.